Tuesday, November 2, 2010

(masih) Nulis FanFiction (lagi)

Halo! berjumpa di menjelang akhir tahun dengan cuaca hujan-ekstrim-panas-ekstrim yang membuat gw males kuliah! *digeplak*

akhir-akhir ini hidup gw so far so good, atau dengan kata lain GILA BOSEN ABIS! kalo hidup datar kaya gini apa yang bisa gw tulis coba? *uhum*

ga ada yang baru selain kesasar di ITC nyariin Carefour, ngelempar sendal ke supir angkot karena jalannya kaya keong racun, terpaksa nge-reject 2 tiket premiere film Megamind di XXI Plaza Senayan karena temen temen gw lagi ga asik! *woi, ga asik lo semua, dikasi tiket premiere malah sok sibuk!*dan bikin taruhan super sama that-boy-you-know-who.

ah ya ya! dan gw resmi ngebooking tiket buat nonton bareng HPF jakarta film Harry Potter and Deathly Hallows part 1 di Blitz Megaplex tanggal 21 November nanti. which is... itu tanggal pertengahan UTS gw!! aaarrhh pemilihan tanggal yang sangat amat odong sekali!

cukup curhatnya. *benerin dasi ceritanya*

posting berikut ini (masih) gw barengi dengan salah satu cerita FFn yang gw buat, dan sekarang gw pajang disini supaya bisa dibaca. idenya ngalor-ngidul, tapi ini gw buat abis nangis-nangis abis nonton film Hachiko. agak agak galau gimanaaa gitu *ditimpuk ababil*
alur waktunya lompat-lompat. semoga aja yang baca bisa ngerti deh. enjoy reading!


>> Disclaimer : All characters from JK Rowling. Tomorrow by Avril Lavigne.


I Need You. But I Never Want You.


And I wanna believe you, When you tell me that it’ll be okay. Yeah, I try to believe you, But I don’t.

When you say that it’s gonna be, It always turns out to be a different way. I try to believe you… Not today.

I don’t know how I’ll feel, Tomorrow.
I don’t know what to say, Tomorrow.
Tomorrow is a different day.



“Aku merindukanmu,” begitu kata-kata yang akhirnya terlontar dari bibir tipisnya yang pucat. Salju menempel disetiap senti mantel hitamnya, dan rambut pirang platinumnya berantakan tertiup angin. Badai diluar sana.

“Karena aku begitu egois, maka aku tidak mengejarmu, tidak mendapatkanmu. Aku sudah lupa, entah bagaimana, rasanya mencintai, dan selama ini aku hidup dengan mengabaikan hal itu,” pemuda itu berbicara dengan sangat cepat, seolah jika tidak mengatakannya sekarang, hal itu takkan pernah terucapkan. Atau mungkin Ia sudah sangat kedinginan sehingga kata-katanya keluar tanpa terkontrol.

“Hermione… please, kumohon…” katanya, menutup matanya, kelelahan karena berlari sepanjang Hogsmead ditengah badai salju, dan karena ketakutan atas jawaban yang akan diberikan gadis itu.


***


Hari itu pertama kali Draco mengajakku berdansa. Di pesta Halloween Hogwarts.

Dengan wajah merah padam, kata-kata yang tidak jelas dengan banyak sekali partikel ‘err’ dan ‘ng’, dan sorakan riuh diseluruh Aula Besar. Neville menjatuhkan piringnya dengan dentang keras diujung sana.

Diiringi tatapan aneh Ron, kikikan keras Harry yang tetap terdengar meskipun dia sudah menyumpal mulutnya dengan banyak donat gula, dan Profesor McGonagall yang memandangi kami terang-terangan, tangannya mengenggam tanganku dengan kehangatan yang aneh, karena aku pernah yakin sekali dia sedingin batuan beku. Malam itu, kami berputar mulus dengan Waltz lembut disepanjang lantai dansa.

Desah nafasnya diantara helaian rambutku, dingin menyejukkan. Membelai wajahku dengan nyaman.

“Um, Granger. Kau tidak harus menyetujui ajakanku berdansa, kau tahu,” adalah kata-katanya yang pertama. Nada dingin dan sengitnya tidak sepenuhnya hilang, ternyata.

Aku takkan bilang kalau aku senang, tentu saja. Malfoy perlu diberikan kejutan kecil, setelah kejutannya malam ini padaku.

“Aku orang yang cukup tahu sopan santun, Mr Malfoy. Dan menolak ajakan dansa pertamaku dimalam ini akan menjadi hal yang tidak mengenakkan, kau tahu. Tidak sopan bagi seorang gadis.”

“Jadi ini hanya bentuk kesopanan semata, Miss Granger?”

“Apa aku harus mengulangi kata-kataku tadi?"

“Oh. Hm,” dia sibuk berdeham-deham.

Satu lagu berlalu dengan sangat cepat. Aku mengakhiri dansa Waltz dengannya malam itu. Membungkuk sopan, aku berbalik meninggalkannya, setengah berharap bisa mencari tepat duduk yang jauh dari kawanan Lavender Brown dan Parvati Patil yang pasti akan dengan sangat heboh mewawancaraiku. Oh, Ginny pasti akan melakukan hal itu juga. Padahal kejadian ini bagaikan bintang jatuh yang tepat menimpa kepalaku tanpa ada prediksi astronomi sama sekali.

Baru dua langkah meninggalkan area dansa, tangan yang sama, yang tadi menggengam jemariku saat berdansa, menarik tubuhku hingga kedalam gelap temaram dibalik tirai sudut Aula. Hal terakhir yang sempat kulihat hanyalah kilau perak rambutnya, kemudian semua hilang, dan yang kurasakan hanyalah ciuman manis dibibirku.


***


Tidak ada yang asing dengan adegan saling memaki antara gadis Gryffindor berambut coklat tebal dengan seorang pemuda Slytherin arogan itu. Beberapa kali bahkan saling mengancungkan tongkat sihir. Tapi sudah jadi rahasia, mereka akan bergandengan tangan saat akhir pekan tiba menikmati matahari, terlihat saling melengkapi satu sama lain.

Maka tidak ada yang menyangka bila sepasang kekasih yang sedang meikmati matahari dipinggir Danau Hogwarts itu, sedang membicarakan perpisahan mereka.

“Namanya Astoria Greengrass. Kau tahu? Adik Daphne.”

“Ah, ya. Jadi ayahmu sudah memutuskannya?”

“Ya, begitulah. Mum berulang kali menentangnya, tapi akhirnya tetap saja…” pemuda itu mengangkat bahu. “Kau akan… membiarkanku begitu saja, ‘Mione?”

Hermione menghela nafas. Melirik kearah Draco, dan tanpa terduga memberikan satu ciuman manis dipipi kekasihnya itu. Draco tersenyum kecil. Dia tahu artinya.

“Aku membutuhkanmu. Tapi tidak pernah menginginkanmu untuk jadi milikku,”


***


“Hermione… please, kumohon…” katanya, menutup matanya. Hermione menelan ludahnya, terasa sakit sekali, seolah tenggorokkannya tertutup, tanpa ada asupan udara untuk dihirup.

Memori bersama Draco terlalu berharga, terlalu riskan untuk dilepaskan dalam hidupnya. Tapi memori, masih akan bisa tersimpan, untuk dilihat lagi nanti lain waktu.

“Aku akan menikah, dengan Ron Weasley. Besok.”


I don’t know how I’ll feel, Tomorrow.
I don’t know what to say, Tomorrow.
Tomorrow is a different day.



***


kalau punya waktu banyak untuk membaca, gw punya FF 3 chapter tentang perang besar di Hogwarts. gw bikin sekitar sebulan yang lalu. alur sama dengan HP 7, tapi dari perspektif orang lain yang sama sekali tidak terkait dengan Trio Emas. OC dari gw. ceritanya ada action, tragedy, dan love story juga. bisa dibaca disini >> http://m.fanfiction.net/s/6405205/1/


okay, that's for today, readers! :)

Thursday, September 30, 2010

Ketika Jiwa Writer Kembali *tsaaah

waduh. gw emang bukan blogger yang baik, huhu. maaf menelantarkanmu, blog :*
ini gara-gara keseringan ngetweet, jadi males nulis :(

nah jadi beberapa minggu ini gw sering main ke fanfiction.net, tempat buat para penulis fiksi amatir dengan menggunakan tokoh atau alur cerita yang dipinjam dari buku, film, atau apapun deh.

dan gw jadi suka banget baca fanfictions tentang Harry Potter gitu. secara gw emang freak juga sih..
dan ikutanlah gw. muahahaha. ini adalah cerita pertama yang gw tulis dan gw publish di fanfiction.net. tanggepannya lumayan, gw dapet beberapa review dari author (penulis) lainnya disitu yang emang udah senior, dan mereka bilang karya gw bagus dan menyuruh gw tetap menulis. muahahaha (lagi).

udah ah, ga usah kebanyakan curhat, ini dia karya gw. enjoy!


>> Disclaimer: Semua tokoh yang digunakan milik JK Rowling. Saya hanya membuat cerita berdasarkan khayalan seorang fans semata. Ginny Weasley POV.

Karena Cinta, Menunggu.

‘Benarkah hanya begini? Hanya ini yang bisa kulakukan?’ batin Ginny. Lagi lagi berusaha membuat wajahnya biasa saja dihadapan dia, seorang laki laki bermata hijau dibalik kacamatanya, berambut hitam berantakan, yang sedang berbicara dengan kakak laki lakinya.

‘sungguh hanya seperti ini? Kau, laki laki yang kucintainya sejak aku baru saja mengenal apa itu cinta. Kau, laki laki yang menempati setiap inci hatiku. Juga Kau, laki laki yang memang sepertinya mustahil untuk termiliki.’ Ginny mengigit bibirnya. Harry tak pernah tau, juga tak ingin tahu. Harry menyukai Cho Chang, seeker Ravenclaw itu. Bukan aku. Dan kenapa selama lima tahun ini dia tak bisa menyerah juga? Dia hampir menertawakan kebodohannya sendiri.

Ginny merasakan tatapan teman kakaknya, seorang gadis berambut coklat lebat.

Hermione nyengir padanya. Cengiran yang berarti banyak. Tapi terdefinisikan sebagai satu kata, ‘aku mengerti,’.

Ginny tersenyum. “kau terlalu pintar, Hermione.” Katanya sambil memutar bola matanya.

Diluar dugaan, Ron memerhatikan mereka. “apa yang kalian bicarakan?” katanya.

“aku memujinya, kau tidak dengar?” balasku. Cukup. Ron kembali berbicara kepada Harry. Dan aku berusaha tidak melihat Harry lagi. Memandang The Quibbler yang diberikan Luna kepadaku, aku berusaha terlihat terfokus. Tapi lembaran lembaran majalah itu nyaris robek karena kucengkeram sangat kuat.

***

Memasuki tahun kelimaku di Hogwarts, aku sudah tidak ingin lagi berusaha menggantikan sosok Harry Potter yang kucintai dengan cara menyibukkan diri dengan laki laki lain. Sudah cukup aku menggunakan mereka untuk menghalau keinginan keinginanku yang mustahil untuk berada disisi Harry Potter sang terpilih, laki laki yang bertahan hidup, atau apapun kata mereka. Bagiku dia hanya Harry Potter, hanya seorang laki laki pemberani, yang mata hijaunya membuatku mencintainya.

Aku hanya akan mencintainya. Tidak berusaha lari lagi dari perasaanku sendiri. Dan itu cukup. Meskipun orang yang kucintai, adalah orang yang mungkin paling diinginkan seluruh gadis di Hogwarts. Bukankah Muggle pun sering berkata, kalau cinta tidak harus memiliki? Aku sudah cukup bahagia dengan itu.

Tapi Merlin pun tak tahu, jika tahun ini, laki laki itu, akan menciumku dan mengatakan cinta kepadaku.

***

Aku membawa beberapa mawar putih saat pemakaman Professor Dumbledore. Dan saat berjalan keluar kastil, aku menemukan Harry. Diapit kakakku Ron dan Hermione.

Aku melihat wajahnya, dan menunduk memandang buketku, menyembunyikan air mata. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat kekasihmu yang ingin kau lindungi, justru begitu rapuh, sangat terluka.

Dan aku sangat mengerti ketika pemakaman Dumbledore usai, Harry berbicara kepadaku, untuk mengakhiri hubungan kami. Jauh dari yang diketahui Harry, aku sudah menyiapkan diri untuk ini.

Aku meyakinkannya aku baik baik saja. Sementara hatiku menjerit menatap wajah sendu itu, aku tidak mengkhawatirkan diriku sendiri! Kaulah Harry, kau yang kukhawatirkan sampai rasanya selama ini aku tidak hidup dengan membutuhkan oksigen. Tapi dengan membutuhkanmu!

Pelukan terakhir dengannya waktu itu, seolah membawa nyawaku bersamanya.

***

Aku merindukanmu. Aku merindukanmu. Seperti lagu yang berulang ulang terputar dikepalaku. Aku merindukannya. Bagaimana keadaannya? Bagaimana kakakku? Bagaimana Hermione? Bahkan kekacauan yang kubuat bersama Neville, Luna, dan anak anak Gryffindor lain seakan hanya selingan.

Entah apa yang mereka kerjakan, untuk menghancurkan Voldy itu. Dia membuat kekasihku kehilangan nyaris semuanya. Voldy akan kalah, ditangan kekasihku. Aku tahu itu.

Aku menunggu, Harry. Aku menunggumu. Kau akan kembali padaku kan?

Tapi kali ini aku kalah pada airmata. Aku membungkuk nyaris setengah jam sambil mencengkeram dadaku yang begitu sakit, berusaha meredam suara tangisanku.

***

Sepanjang pemakaman Fred, Harry mengenggam tanganku. Aku tidak menoleh, betapapun Fred dan George mengejekku jika aku sedang menangis, saat ini aku ingin mereka melihatku sekarang. Kau menyakiti hatiku Fred! Kau tahu aku sangat menyayangimu, kakakku!

Tapi kesedihanku sama sekali tidak sebanding dengan tatapan kosong Mum, kebisuan Dad, dan terutama George. Sama sekali tidak ada kata-kata yang bisa kuucapkan ketika melihat George, duduk sendirian.

Harry meminjamkan pundaknya untukku hari itu. Sepanjang hari dan sepanjang malam. Ron juga melakukan hal sama dengan Hermione. Kami berempat, duduk dalam diam di ruang keluarga The Burrow.

***

Ketika masa masa sulit itu mulai berlalu, Harry melamarku. Begitu sederhana... dan begitu tak terlupakan.

Dia menekuk lututnya disuatu pagi dihalaman Quidditch The Burrow dengan membawa sebuah cincin mungil yang sangat indah, sangat tampan dan terlihat bahagia, dan menyatakan cintanya kepadaku.

Aku hampir tertawa karena disaat bersamaan Mum dan Dad memekik dari kamar mereka, masih mengenakan piama. Dad hampir loncat dari jendela saking bersemangatnya.

Tapi mendadak itu semua terlupakan saat Harry meraihku dalam pelukannya. Aku miliknya. Dan dia milikku. Setelah semua kemustahilan bertahun tahun, aku meraih impian paling bahagia dalam hidupku.

“kau tahu, Harry? Cinta sejati, akan selalu menunggu..”

END


yak. begitulah kira-kira.

kenapa banyak adegan nangisnya? -__-"
jadi pas nulis fiksi ini gw lagi galau dan media player gw memutar lagu dari OST still want to marry yang sedih. hop. jadilah ceritanya begini.
tapi gw bikin happy ending, jadi ga masalah kan. padahal penulisnya aja belum happy ending! *curcol*

udah ah, that's for today!

;D

Friday, August 20, 2010

Indonesia ?

Masih dalam rangka bulan kemerdekaan Indonesia, waktu baca timeline gw ditwitter, gw nemuin satu artikel di http://terselubung.blogspot.com/2010/08/negara-terkaya-di-dunia-yang-luput-dari.html?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter. yang tertarik silahkan buka sendiri. dan kalo lo orang Indonesia, gw emang nyaranin banget buat baca.



isinya? gw speechless.
gw posting salah satu tulisan disana.

Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia

Suatu hari Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja diciptakan- Nya. Malaikat pun bertanya, "Apa yang baru saja Engkau ciptakan, Tuhan?" "Lihatlah, Aku baru saja menciptakan sebuah planet biru yang bernama Bumi," kata Tuhan sambil menambahkan beberapa awan di atas daerah hutan hujan Amazon. Tuhan melanjutkan, "Ini akan menjadi planet yang luar biasa dari yang pernah Aku ciptakan. Di planet baru ini, segalanya akan terjadi secara seimbang".

Lalu Tuhan menjelaskan kepada malaikat tentang Benua Eropa. Di Eropa sebelah utara, Tuhan menciptakan tanah yang penuh peluang dan menyenangkan seperti Inggris, Skotlandia dan Perancis. Tetapi di daerah itu, Tuhan juga menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Di Eropa bagian selatan, Tuhan menciptakan masyarakat yang agak miskin, seperti Spanyol dan Portugal, tetapi banyak sinar matahari dan hangat serta pemandangan eksotis di Selat Gibraltar.

Lalu malaikat menunjuk sebuah kepulauan sambil berseru, "Lalu daerah apakah itu Tuhan?" "O, itu," kata Tuhan, "itu Indonesia. Negara yang sangat kaya dan sangat cantik di planet bumi. Ada jutaan flora dan fauna yang telah Aku ciptakan di sana. Ada jutaan ikan segar di laut yang siap panen. Banyak sinar matahari dan hujan. Penduduknya Ku ciptakan ramah tamah,suka menolong dan berkebudayaan yang beraneka warna. Mereka pekerja keras, siap hidup sederhana dan bersahaja serta mencintai seni."

Dengan terheran-heran, malaikat pun protes, "Lho, katanya tadi setiap negara akan diciptakan dengan keseimbangan. Kok Indonesia baik-baik semua. Lalu dimana letak keseimbangannya? "
Tuhan pun menjawab dalam bahasa Inggris, "Wait, until you see the idiots I put in the government." (tunggu sampai Saya menaruh 'idiot2' di pemerintahannya)

Dan untuk rasa terima kasih untuk Kemerdekaan Indonesia yang ke 65 tahun, kami pemuda-pemudi Indonesia memberikan penghargaan sebesar-besarnya kepada pejuang yang telah mengorbankan darah dan air mata mereka untuk bangsa yang tidak tahu terima kasih ini.




"Indonesia tanah air beta
disana tempat lahir beta,
dibuai dibesarkan bunda,
Tempat berlindung di hari tua...
Hingga nanti menutup mata"

Monday, August 16, 2010

Rekam Jejak Paskibra-Ku

Happy Birthday again, Indonesia.

tahun lalu juga gw nulis tentang kemerdekaan tanggal 17 Agustus. jadi semacam kebiasaan. euforia gw, yang notabene ikut Pasukan Pengibar Bendera selama 3 tahun di SMA, masih (dan memang harus!) menganggap 17 Agustus adalah hari yang istimewa.

untuk 17 Agustus tahun ini, emosi yang paling gw rasain adalah... kangen.
gw kangen tim Paskibra gw.
gw kangen langkah tegap maju dilapangan, gw kangen perasaan degdegser waktu megang bendera, gw kangen posisi gw sebagai pembentang (padahal dulu sempet protes, hehe).
dan banyak lagi yang gw kangenin.

Paskibra adalah rumah kedua gw disekolah, selain kelas. dengan temen temen senasib sependeritaan, dengan sesi latihan yang luar biasa capeknya, dengan pengorbanan menjadi dekil karena terbakar matahari, dengan seringnya hilang dari kelas karena dispensasi atau bolos, dan dengan kebanggaan ketika mengangkat piala yang kami raih.

gw inget gw bangga dengan lencana merah putih yang dipakai waktu pengibaran. gw inget gw seneng waktu peci dengan lambang Garuda dipasang dikepala gw. dan gw sampai sekarang, masih sangat menyukai PDH gw yang putih hitam, dengan segala atributnya, terutama lencana nama gw yang di garisbawahi dengan kalimat Pasukan Pengibar Bendera.

Paskibra, adalah bagian dari diri gw.



nb : waktu ikut paskibra, badan gw ideal! begitu ga pernah latihan sejak konsen ujian akhir SMA, dari guru olahraga sampai guru bahasa sunda gw ribut nyuruh diet. hehe.